Buat Aku Benci, Untuk Mencintai

Terbaru

putri bulan

Putri, sebenarnya sudah lama aku ingin menuliskan puisi untukmu. Namun, aku pernah mendengar dari seseorang. Jika kau adalah putri bulan. Yang hanya muncul di malam hari, dan itupun terkadang. Entah siapa yang memberitahukan kepadaku, mungkin Tuhan. Ya, siapa lagi yang bisa membuat takdir, dan jodoh, dan pertemuan.

Aku adalah dewa. Ya kau benar, aku dewa matahari. Yang selalu tak bisa kau temui kecuali jika sedang gerhana. Malam ini sebenarnya aku ingin sekali mencium keningmu saat kau bermimpi. Dan membacakan puisi ini pada bisikan lembut di telingamu. Tapi tidak mungkin, kau juga tau kenapa. karena aku adalah dewa matahari.

Seekor ayam. Ayam peliharaan pak haji. Suatu pagi. Memberitahukan kepadaku lewat kokokannya, bahwa ia melihat putri menangis di sepertiga malam yang hampir habis. “lalu siapa yang menenangkannya, lalu siapa yang membuatnya menangis, dan lalu siapa yang membuatnya berhenti menangis”. –kehadiranmu dewa

Iklan

untukmu, luka

jangan pernah menangis
saat engkau terlahir tanpa ibu atau seorang bapak
atau bahkan beberapa bapak

cinta takkan pernah menyalahkanmu hadir
sebagai kata-kata yang dibenci, nantinya

jika hujan selalu kau anggap teman untuk menyendiri
berharaplah, seseorang akan jatuh serta
atau tidak sama sekali

seperti sebuah takdir
tak pernah bisa kau minta
namun ia selalu ada

menjadi apapun

aku ingin menjadi sesuatu
yang kamu sukai saat mulai membayangkan sesuatu

aku ingin menjadi apapun
yang kamu sukai saat mulai membayangkan apapun

mumpung aku sekarang–yang kasmaran
melihatmu lebih-lebih dari biasanya

mumpung aku sekarang–yang jatuh
menginginkanmu melebihi yang sedang aku lalui

sebuah keinginan

“GERBANG PENDAKIAN GUNUNG SLAMET. POS BAMBANGAN. KABUPATEN PURBALINGGA” persis seperti itu tulisannya. Aku lihat sebuah pintu masuk desa, dengan tulisan yang hanya beronamen besi-besi yang dilas dan diberi tulisan besar di atasnya secara setengah lingkaran. Seperti gerbang desa pada umumnya. Atau bisa dibayangkan seperti pintu masuk kondangan-kondangan di gedung. Namun bedanya ini di desa. Atau juga seperti pintu-pintu dan jendela masjid yang bagian atasnya membentuk setengah lingkaran. Ya sama persis.
Bambangan, ini adalah desa terakhir di kaki gunung slamet. Tepatnya pintu masuk utama pendakian gunung slamet. Bambangan adalah jalur tercepat untuk menuju puncak slamet diantara jalur kaliwadas di kabupaten brebes. Atau jalur baturraden di kabupaten banyumas. Di desa yang berketinggian 1279 mdpl ini aku memeriksa kembali perlengkapan dan mengurus segala administrasi pendakian.
Ini kali pertamaku mendaki gunung melewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang. Lah kenapa jadi nyanyi begini? Setelah membaca tulisan itu, detak jantungku entah kenapa menjadi lebih cepat dari biasanya. Dan tetiba aku melamun memikirkan seseorang yang disana. Membayangkannya tertawa, tersenyum menatapku. Dan ah, cinta terkadang atau bahkan selalu membuat orang lupa diri.
“gimana mblo? Siap? Jangan nangis, jangan degdegan, inget tujuanmu kesini untuk apa?” Andi menepuk bahuku tiba-tiba. saat aku sedang melamun menatap tulisan di gerbang itu
“anjrit. Apaan sih emang aku kamu? yang suka nangis kalo beli bakso tapi kehabisan?”
“eh eh, kenapa malah nyangkut kesitu…”
“lagian aku lagi ngalamun, dan lagi deg-degan gini malah dikagetin dan ngomong nggak jelas”
“hahhaaa iya deh, udah siap kan metik edelweis untuk mawar?”
“ok siap”
“ayok berangkat!!”
“tunggu, aku mau kencing dulu…” Kata yuza
Ini memang perjalanan perdanaku mendaki gunung. Dan langsung mendaki gunung tertinggi di jawa tengah, atau gunung tertinggi kedua di jawa. Ya, gunung slamet (3.428 meter dpl.) Tapi tidak dengan kedua sahabatku. Andi dan yuza, mereka mungkin nampak biasa dengan perjalanan kali ini. Bagaimana tidak dari kelas satu SMA dulu, mereka sudah mengikuti ekstrakulikuler pecinta alam. Maka dari itu, mendaki gunung sudah seperti kegiatan rutin wisatanya. Apalagi dengan gunung slamet, gunung yang paling dekat dengan kampus dan kota kami. Hingga akhirnya mereka aku paksa, untuk mengantarkanku pergi ke puncak slamet dan menyempatkan untuk memetik edelweis untuk mawar.

***

Sebut saja Mawar, bukan karena nama samaran karena dia adalah seorang korban pelecehan seksual atau apalah. Tapi namanya memang mawar. Ia selalu saja (namanya) menjadi bahan tertawaan kami di kampus. Apalagi saat ada mata kuliah pendidikan kewarganegaraan, yang disana sedang membahas kriminalitas. Haha.. Tapi ia seorang anak yang makluman. Ia seorang perempuan manis, pemakai setia kerudung dengan model biasa. Penyuka rok panjang, dan seorang perempuan yang tidak suka dandan. Teman-teman menganggapnya perempuan yang cupu, yang nggak ngerti gaya. Dengan kerudung yang biasa, kacamata kotak dengan bingkai warna hitam setebal kasur tidurnya– tempat paling nyaman untuk tempat ngilernya itu– Dengan rok yang kepanjangan, dan jaket yang kebesaran. Ya, teman-teman menganggapnya begitu. Tapi tidak denganku, ia spesial. Ia biasa. Dan justru ‘biasa’ nya dia yang aku anggap spesial. Tidak ada perempuan lainnya (yang manis) seperti dia. Yang tidak suka dandan dan sebagainya. Karena bagiku, untuk menjadi cantik, tidak perlu melakukan hal-hal berlebihan. Ya, tersenyum saja itu lebih dari cukup. Dan juga karena ia menghargai pemberian Tuhan yang ‘asli’
Badannya ideal dengan tinggi persis setara dengan telingaku. Ia seorang yang pendiam, namun cerewet. Misalkan saja saat kita berdua sengaja belanja ke departemen store, membeli pakaian lebaran. Dan di waktu sama dari kejauhan saat masih menaiki ekskalator (maklum, disini lift masih dianggap sesuatu yang langka) ia melihat model patung berpakaian kemeja yang lagi ngetrend saat itu. Dan entah ada angin apa? Entah angin dari ase sebelah mana. Tiba-tiba mawar menginginkan kemeja tersebut. Saat kami sampai di model patung tersebut dan menanyai mba-mba spg nya. Katanya kemeja itu cuma sarung yang dilipet-lipet doank di patungnya. Alhasil mawar yang berkepribadian pendiam. Sekarang menjadi orang yang paling cerewet se-departemen store hingga mba-mba spg yang lagi maksa ibu-ibu untuk mencoba produknya dengan koar-koarnya pun kalah dibuatnya.
Kata teman, aku dan mawar itu pacaran. Tapi sebenarnya bukan pacar, karena diantara kita belum ada yang ngungkapin perasaannya. Teman-teman aja yang bilang kami pacaran. Mungkin karena saking deketnya hingga mereka tidak bisa bedakan, mana yang pacaran, mana yang tidak pacaran atau cuma sahabatan. Awalnya kita cuma teman biasa, namun entah kenapa setelah dia putus sama pacarnya. Tiba-tiba dia mencariku dan menjadi alat untuk penampung ceritanya yang suram itu. Aku juga tak tau kenapa dia tiba-tiba mencari dan memilihku sebagai wadah tangisan-tangisannya itu. Padahal di kampus-pun aku termasuk anak yang pendiam bahkan cuek. Aku pernah sesekali nanya tentang ini langsung pada mawar, ya tentu setelah aku sama dia sudah dekat lumayan lama.
“maw, mawar…”
“ia apa ram, rampok”
Yah mungkin ini hal biasa sebagai seorang sahabat yang sudah dekat bahkan sangat dekat. Memanggil dengan sejidatnya sendiri. Tapi kami nyaman dengan panggilan yang kami ucapkan sendiri. Rasanya seperti sebuah panggilan sayang yang khusus. Yang orang lain tidak memanggilnya, kecuali diri kita sendiri. Aku memanggilnya maw, dia memanggilku pok. Tapi jika dipikir masih mending panggilan dia dari aku, masih nyangkut namanya. Sedangkan dia, nama yang bagus Rama malah di plesetin jadi rampok. Tapi diantara kita memang sudah saling mengerti sebelumnya. Dan untungnya diantara kita memang akhirnya mengerti.
“kenapa pas kamu putus dulu, kamu tiba-tiba dateng ke aku?”
“gatau…”
“udah gitu ajah?”
“iya, udah gitu ajah?”
“yaudah”
“yaudah juga”
Ya begitulah. Terkadang kita hanya bisa saling menanyakan. Tanpa ada jawaban yang pasti. Karena jawaban-jawaban terkadang sulit untuk dikatakan diantara kita masing-masing. Mawar termasuk orang yang cuek sama siapapun. Tapi perhatian dia sangat besar dan begitu hebat kepada teman-temannya. Dia begitu peduli dengan seseorang yang mengganggap dia adalah temannya. Semoga dia menjadi perempuan yang kuat.
Dia lemah, bahkan sangat lemah. Dia selalu mudah untuk menangis daripada harus cerita atau meluapkannya dengan sesuatu. Terkadang saat aku bersamanya, aku selalu membawa kantong kresek untuk menampung air matanya yang tidak kira-kira itu.

***

Entah kenapa tiba-tiba saja mawar menginginkan edelweis. Aku tak tau kenapa tiba-tiba dia meminta hal yang seperti itu. Mungkin dia sedang membaca buku kesukaannya di perpustakaan tentang bunga-bunga. Mawar memang sangat sekali bunga. Tengok saja ke kamarnya, dinding yang penuh di tempeli wallpapers bunga. Atau ornamen tempat tidur seperti sprei, bantal, guling semua berbau bunga. Atau bahkan pc dan lcd monitornya yang penuh bunga-bunga. Dia pun pernah berbicara padaku
“pok, kamu tau nggak bunga yang aku sukai”
“gatau… Emang apa?”
“bunga bank”
“udah?”
“udah…”
“yaudah”
Mawar adalah pembaca yang bisa di bilang pembaca yang sudah akut, dia senang membaca–Dimanapun. Apalagi di kampus, ia selalu menyempatkan diri ke perpustakaan untuk sekedar menjenguk atau mengelilingi ruangan perpustakaan kampus. Tapi tidak ketinggalan untuk menyempatkan diri memilih buku dan mencari kursi kosong lalu membacanya. Walau cuma sebentar.
Mungkin bagi dia buku ialah nafas. “aku tidak bisa hidup tanpa buku” katanya. Mungkin dia mengganggap buku seperti aku yang mengganggap kopi. Ya, kami sudah memiliki jodoh masing-masing. Jodoh paling setia bersama benda-benda tak bernyawa ini contohnya. Dia suka buku, aku suka kopi. Tapi ini bukan tentang buku atau kopi kesukaan kami masing-masing. Ini tentang mawar, ya tentang edelweis. Bunga yang sedang ia inginkan. Dan tentang keinginannya mengenai edelweis itu yang masih belum bisa aku terima secara sukarela.
Bermula dari jam pulang sekolah kami. Tidak, maksudku pulang kuliah kami. Seperti biasa, mawar selalu menyempatkan diri berkunjung ke perpustakaan, sedang aku menyempatkan diri menemui ibu kantin. Tidak lain tidak bukan, memintanya membuatkanku secangkir kopi. Mawar selalu bisa membaca buku apa saja. Aku selalu saja bisa meminum kopi apa saja. Entah siapa yang menghubung-hubungkannya. Tapi kami memang begitu; sama-sama menyukai tentang hal-hal yang masih berhubungan dengan hal yang kami sukai.
Dengan kopi yang masih panas seperti biasa aku nyalakan rokok keteng alias rokok ngecer. “satu batang dulu, ah” sambil menunggu andi dan yuza keluar dari kelasnya. Kami memang satu jurusan tapi berbeda kelas. Masalah menunggu kami tidak pernah berjanji sebelumnya, hanya untuk saling mengobrol dan bertemu. Walau hal yang dibicarakan masih itu-itu saja. Tidak jauh-jauh dari wanita, dosen, dan masa depan yang masih jadi bahan candaan. Maklumlah kami masih anak-anak kuliahan yang masih belum kepikiran skripsi. Jadi masih saja ada hal-hal untuk ditertawakan.
Rokok sudah mau habis. Andi dan yuza datang mengagetkanku dari belakang. Dengan membawa secangkir kopi yang sudah pesan pada ibu kantin di tangan mereka masing-masing. “woy mblo, ngalamun aja” kata andi. Panggilan kami memang sama mblo tapi bukan karena kita bertiga jomblo. Karena kami bertiga memang belum punya pasangan. Entah kenapa saat kami menjelaskan arti panggilan mblo kami. Teman-teman yang di dekat kami tertawa. Contohnya waktu itu, ada dua cewek anak sastra inggris yang duduk di sampingku dengan asap dan tentu rokok di tangan kiri mereka sambil tertawa kecil. Aku lihat, mereka seolah ingin memakan asap rokoknya lagi. Mungkin di dalam hati mereka, mereka ingin bilang ‘sama aja goblok!!!’. Juga dengan ibu kantin, yang biasa menguping pembicaraan kami. Sebenernya bukan menguping. Tapi emang suara kami yang kelewat keras dan terkadang atau bahkan sering malu-maluin.
Lima menit, sepuluh menit dan beberapa menit kemudian. Kami bertiga masih membakar rokok untuk episode-episode selanjutnya dan menghabiskan cangkir kopi kita masing-masing. ‘bu, ini cangkirnya bocor ya? Kok kopinya udah nggak ada?’ ledek yuza kepada ibu kantin. Kami memang terlihat konyol, tapi tetap yang paling keren di tongkrongan. Kalo sudah ngumpul bertiga, waktu selalu kami nomor duakan. Hingga tiba-tiba mawar datang. Menepuk pundakku dari belakang. Aku juga tidak tau, kenapa dengan kata ‘tiba-tiba dan mawar’? Mereka selalu saja datang bersamaan.
“pok, bisa ngomong sebentar?” Mawar membawaku ke sisi lain kantin. Mawar memang tidak terlalu dekat dengan andi dan yuza. Makanya ia mungkin membawaku ke sisi lain. Mawar menganggapku adalah satu-satunya teman dekatnya di kampus. Karena tidak ada orang lain yang menganggap mawar seperti aku, katanya. Akupun, mawar sudah aku anggap sebagai sahabat. Seperti andi dan yuda. Cuma beda kapasitas dalam masalah gender. Kami saling terbuka, namun tidak semua hal kita saling buka. Karena kita sama-sama tau komposisi apa saja yang memang pantas kita ceritakan atau kita simpan sendiri.
“iya ada apa maw? Ada yang penting?”
“untuk masalah penting atau nggak pentingnya. Kamu yang nentuin”
“ia apa maw?”
“aku pengen edelweis pok…”

***

“ok sudah siap semua mblo… Cek-cek perlengkapan semua. Handphone kalo bisa ditinggal atau dititipin ke penjaga pos. Atau kalau memaksa untuk dibawa. Dimatiin aja. Karena sehabis melewati desa ini sinyal sudah tidak ada” andi memerintahkan. Dia pemandunya dalam perjalanan ini
“mblo, nggak pengen pamitan dulu sama mawar?” Rayu yuza kepadaku
“nggak ah, lagian ini kejutan”
“ya paling nggak kan minta doanya biar selamet. Telpon gih, mumpung masih ada sinyal disini. Ntar kalo ada apa-apa di jalan, dan kamu belum sempet pamitan sama mawar gimana”
“astagfirullah jelek amat doanya, tapi bener juga ya…”
Rama menunda keberangkatan. Dengan kembali membongkar tas ‘keril’nya itu. Karena handphone yang dibawanya disimpan di tengah-tengah. Bermaksud untuk melindunginya dari udara slamet yang semakin tinggi, semakin dingin.
Tuuuut…tuuuut…tuuuut…
“assalamualaikum”
“wangalaikumsalam”
“ia pok, ada apa”
“aku minta doanya ya? Biar selamat sampai puncak”
“puncak?”
“astagfirullah, keceplosan… Maaf maw” polos rama
“kamu emang lagi dimana? Suara kamu kok putus-putus? Jauh lagi…”
“aku lagi di bambangan, sebentar lagi mau berangkat ke puncak. Mau metik edelweis buat kamu maw. Walau aku tau itu dilarang bagi para pecinta alam. Doain aku samp…”
Tiba-tiba percakapan telepon mereka mulai terputus. Mawar hanya mendengar penjelasan dari rama, tapi rama belum mendengar penjelasan dari mawar
“anjrit, udah keceplosan mau naik gunung. Eh ini hape malahan baterainya abis. Semoga aja mawar nyertain aku dalam doanya ya mblo” andi dan yuza hanya mengangguk mengiyakan. “yaudah ayok berangkat… Semoga perjalanan kita selamat sampai tujuan. Nggak ada halangan apapun. Dan pulang dengan selamat, sehat wal afiat”. “aamiin” mereka seraya saling mengaamiin-i
“astagfirullah pok. Aku nggak pernah minta kamu untuk pergi ke gunung dan metikin bunga edelweis cuma buat aku. Kamu belum ngerti. Waktu itu aku memang membaca buku tentang bunga edelweis. Tapi aku tidak ingin kau petikan untukku. Aku hanya ingin kamu menjadi edelweis di hidup aku. Bodoh dan malunya aku aja yang bingung gimana cara ngungkapinnya ke kamu. Aku terlalu gengsi untuk ngungkapin yang sebenarnya. Mungkin karena aku seorang wanita” mawar hanya menangis. Mengajak ngobrol dirinya sendiri di depan cermin. Telepon genggamnya tak berdering lagi–Bahkan sampai satu hariberikutnya. Setelah berita di telivisi memberitakan tentang 3 orang pendaki yang hilang.

aku ingin menjadi penyair

aku ingin menjadi penyair
bukan penyihir
yang membuatmu jatuh cinta kepadaku
dengan hanya sebuah mantra

aku ingin menjadi penyair
bukan penyinyir
atau pula wartawan
yang menanyakan apa saja (tentangmu)
untuk di cari tau

aku ingin menjadi penyair, seperti ibu
yang selalu bisa membuat senyum di hidup anak-anaknya

aku hanya ingin menjadi penyair
seseorang yang kau sukai puisinya

ke arah langit

kesanalah, ke arah langit biru
tidak seperti arah
yang di tunjukkan penunjuk jalan
yang di buat pemerintah

-tuhan menunjukan jalan pulang

bahkan sebelum selesai
koper dikencangkan resletingnya
ban motor yang masih gembes
juga tangan kanan ibu yang belum sempat aku cium

-tuhan telah menunjukan jalan pulang

kepada siapa malam sampai

lampu jalan berjejeran
jalan raya adalah sebuah karpet merah panjang
kepada siapa malam ini sampai
sebelum usai, subuh nanti

kepada siapa nyala-nyala lampu
kepada seorang pemancing yang menunggu umpan
dimakan ikan, di atas jembatan?
kepada seorang pelacur yang menghisap rokok berikutnya
dengan cemas sambil menunggu pelanggan?

kita berjalan
kita di sepanjang jalan ini
(di sebuah perjalanan)

betapa aku terlalu mengharapkanmu
hingga aku ingin kita mati sama-sama
hingga aku dan senjata kita
akan menceritakan yang sebenarnya

aku tak mau mencintaimu!
aku tak mau mencintaimu!
aku tak mau mencintaimu, di dunia saja…

kepada siapa malam ini sampai?

elvaderlina's Blog

Nanti, langkahmu akan menciptakan jejak-jejak sunyi untukku, yang memulangkan nama kita di waktu-waktu paling asing

swasembadakata

Ini perjalananku, kupilih sendiri persinggahanku.

sebatangnikotin

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

seekormonyet.wordpress.com/

hours pass slowly like through funerals... - guillaume apollinaire

ruangsederhana

Just another WordPress.com site

huruf kecil

saya menulis sebab sering diserang perasaan ingin berada di sini, di sana, dan di mana-mana sekaligus.

Read Mey's Minds

Love, life, education. Hateful thoughts, sometimes